Solikhah

CEO Taupasar.

4 Katagori Customer Sebagai Target Audience Strategi Branding


Target Audience adalah orang yang kita bidik untuk mendengar, melihat atau mengetahui aktifitas branding kita. Tujuannya jelas, supaya konten branding yang kita buat dan komunikasikan dapat sampai ke penerima dengan harapan mendapat feedback yang positif.

target audience
Target Audience - Pixabay


Mengapa aktivitas branding perlu ditarget? Dasar sederhananya kembali pada konsep ingat " Tidak semua orang itu adalah target pasar kita". Artinya sebelum melakukan branding, pastikan dulu kita bisa menjawab kepada siapa nanti konten ini akan saya sampaikan.


Pembagian Katagori Target Audience Untuk Branding

Konsep pembagian katagori target audience ini kami dapat dari postingan Pak Subiakto Priosudarsono (IG :@subiakto) yang mengatakan,
"Karena saya praktisi Brand saya memperhatikan PERILAKU dari Calon Consumers beserta Influencing Speresnya."
Artinya dasar dari bagaimana nanti klasfikasi target audience ini adalah perilaku konsumen.

Pak Bi juga menambahkan bahwa bahwa setiap transaksi (dalam hal ini adalah jual beli) dalam prosesnya melibatkan ke 5 Buyers Role (peranan pembelian) dan dipengaruhi oleh ke 7 Influrencing Spheres (kelompok yang mempengaruhi pembelian produk atau pemilihan Brand).

Dari teori atau konsep tersebut kita kemudian bisa menerjemahkannya sebagai dasar pembagian target penerima konten branding. Berikut katagori target audiencenya:

1. Budget Concious

Calon konsumen tipe ini cenderung memiliki kesadaran akan membeli produk/jasa yang sesuai dengan anggaran mereka. Parameter utama tipe ini adalah "cari dulu harganya berapa, baru saya akan beli". Terdengar normal untuk sebuah transaksi pembelian.

Tidak jarang paradigmanya adalah mereka mau mendapat lebih untuk uang mereka bayarkan. Itu kenapa strategi promosi diskon sangat cocok untuk tipe ini. Semakin tinggi potongan harga yang ditawarkan akan semakin membuat mereka merasa jauh lebih untung. Padahal jika di cek secara teliti harga setelah diskon itu sebenarnya harga normal.

Jika mau memilih aktivitas branding maka konsep dasarnya adalah bagaimana membuat konten yang seakan memberikan keuntungan yang "wow". Implikasinya adalah produk yang dibranding model ini akan selalu terkait dengan "saya akan beli hanya diskonnya tinggi". Itu konsekuensi logisnya.

2. Funtion Concious

Calon konsumen tipe ini memiliki ciri - ciri sadar dan mementingkan fungsi utama/fungsi dasar dari produk tersebut. Jika ditarik dalam Konsep Product Level (Tingkatan Produk) maka tipe calon audience ini sudah mulai melihat katagori expected product. Artinya mereka akan membeli produk dimulai dari pemikiran dasar apa yang saya butuhkan sebenarnya.

Jika produk atau katagori produk yang mereka mau sudah tergambar lalu mereka akan menghitung detail biaya yang dikeluarkan. Meski tetap mempertahankan kualitas produk/servis. Perbandingan yang dihitung bukan seberapa murah saja namun sudah memenuhi standar yang dia inginkan atau belum. Produknya sama dan murah namun masuk kriteria tidak akan dibeli.

Konsep brandingnya biasanya berkaitan dengan penjelasan yang detail soal produknya. Biasanya harga yang ditawarkan tidak akan jauh berbeda, sehingga nanti keputusan pembelian akan jatuh pada siapa yang bisa membranding produknya lebih jelas dan lengkap.

3. Convenience Consious

Calon konsumen memiliki kesadaran akan produk/servis yang mampu memberi rasa nyaman. Bersedia membayar biaya lebih /extra. Konsep dasarnya adalah mereka sudah menjadi pelayanan atau kenyamanan menjadi skala prioritas.

Mereka sadar dan rela membayar lebih karena mereka tahu akan mendapatkan kualitas di atas standar. Tipe ini memang tidak banyak jika dibanding dua tipe sebelumnya, namun jika mengukur loyalitas jauh lebih tinggi dibanding dua katagori sebelumnya.

Strategi branding untuk model audience ini biasa menitikberatan pada konsep "More fo More" yang artinya kualitas yang bagus pasti diiringi harga di atas rata - rata. Konten paling sering digunakan untuk tipe ini adalah "adu nyaman" atau ilustrasi jika kita menggunakan produk ini akan senyaman apa,

4. Status Concious

Tipe terakhir ini adalah  Calon konsumen memiliki kesadaran akan kualitas premium dan super premiun, yang membutuhkan produk/servis yang premium. Bersedia membayar biaya demi gengsi dan status. Gambaran sederhananya adalah meningkatkan citra diri.

Banyak sekali brand yang sudah bisa masuk untuk customer ini, sebut saja Rolex, Suprime atau Lamborgini. Semua merek tadi secara langsung atau tidak langsung akan membuat pemakainya diasosiasikan memiliki selera premium.

Jenis customer ini bisa dikatakan paling sedikit namun bisanya memiliki loyalitas tinggi. Tugas utama branding dalam katagori ini adalah menjaga produk dan mereknya selalu dalam level premium.


Apa Manfaat Mengetahui Katagori Target Audience?

Seperti yang sudah dijelaskan di awal, sebelum kita menembakkan peluru senapan, pastikan kita tahu siapa yang akan kita tembak. Sama seperti branding, sebelum memikirkan terlalu jauh soal konten atau publikasi, pastikan dulu kita paham produk atau brand yang sedang kita kelola ini target customernya tipe apa.

Dalam penerapan sederhananya misal saja kita sedang fokus membangun brand lewat Instagram, katagori tadi masing-masing kelompok memiliki pendekatan Copywriting yang berbeda sesuai dengan karakter masing - masing kelompoknya. Semoga bermanfaat
Related Posts