Solikhah

CEO Taupasar.

Selamat Tinggal Loyalitas Customer Untuk Millenial

- taupasar.com | Sadarkah kita bahwa mungkin orang sekeliling kita termasuk pemburu diskon atau cash back? Atau jangan - jangan kita juga termasuk di dalamnya? Cash back, diskon atau sejenisnya benar - benar telah mengubah aturan pasar dengan begitu derastis.

Sebelum sampai ke pembahasan di atas mari sejenak kita tarik sedikit cerita soal bagaimana PT POS bisa sepi karena kita berganti dari surat kertas ke e- mail. Banyaknya Supermarket kuat terpaksa tutup karena kita belanja di toko online. Restoran sepi karena kita beli makanan lewat Go-Food. ATM sepi karena kita pakai OVO, Gopay, Dana dan sejenisnya.


Yang selalu menjadi pertanyaan apakah ini akan terus belanjut? Apa dampaknya pada loyalitas customer? Jawabannya tergantung pada intensi pelanggan dalam memutuskan aspek apa saja yang membuat mereka yakin bahwa itu adalah produk yang paling tepat untuk mereka.

Sudah bukan harasia lagi jika saat ini market place menyuguhkan perang cash back, dikson dan reward point. Asumsi dasarnya adalah siapa yang dirasa paling memberikan keuntungan bagi pelanggan merekalah yang punya potensi paling besar untuk memenangkan pasar. Sama sekali tidak salah.

Namun jika hal itu terus terjadi, apakah kita sadar bahawa pada akhirnya bisa  mengubah perilaku konsumen tidak lagi loyal terhadap suatu brand atau produk tapi justru loyal terhadap Cashback, Point reward dan Diskon. Menariknya semua ini sebenarnya kita sedang bicara soal harga dan keuntungan.

Ya, disitulah "game" berubah. Harga pada satu titik akan dijadikan "major factor" dalam memilih dengan (mungkin) membuat kualitas apalagi reputasi berada di urutan belakang pengambilan keputusan pembelian. Inilah yang menyebabkan terdapat analisa "selamat tinggal loyalitas".

Menurut Subiakto Priosoedarsono hal ini sangat massive terjadi pada milenial. Untuk yang belum tahu apa itu milenial atau Gen Z bisa baca di sini. Menurut Pak Bi, mereka (market place) melakukan itu dengan tujuan ‘mengubah’ FOKUS milenial dari kualitas produk ke Cashback, Point reward dan Diskon.

Pak Bi juga menambahkan bahwa fokus tadi sangat mudah sekali terjadi Karena alasan 1. Produknya sama 2. Kualitasnya rendah 3. Produknya sebenernya gak dibutuhkan 4. Menciptakan kebutuhan palsu.



Apa itu kebutuhan palsu? Ini adalah istilah yang digunakan untuk menggoda calon pembeli yang sebenarnya tidak membutuhkan produk itu. Karena merasa sayang harganya sedang murah maka diputuskan untuk dibeli saja dulu tanpa tahu kapan akan digunakan. Apakah hal itu terjadi pada anda juga?

Setelah perilaku Millenial ini perlahan berubah, maka jangan heran jika pasar kita akan dibanjiri produk sejenis ini. Produknya mirip, kualitas rendah, tidak terlalu subtansial namun yang penting murah.

Sekali lagi fenomena itu tidak salah. Namun itu sebenarnya adalah tantangan berat bagi para pemilik produk untuk menghadapi persaingan model ini. Model ini hanya menghasilkan konsumen yang mengkonsumsi sekali tergantung merek apa yang memberikan cashback, point reward atau diskon paling besar. Jadi masihkah relevan konsep loyalitas customer?

Penulis : Sigit Ardho
Editor : Sigit Ardho