Solikhah

CEO Taupasar.

Definisi Salesmaship, Etika Dasar Salesman Hingga Dragasi Presepsi Salesman


Apa yang ada dalam pikiran anda saat mendengar kata SPG? Atau lebih spesifik SPG produk rokok? Pasti tidak jauh dari wanita yang ber-make-up yang sering “mengoda” supaya produknya dibeli oleh anda. SPG (sales promotion girl) adalah salah satu jenis dari aktifitas atribut bidang salesmanship (penjualan). Namun apakah teman – teman sudah tau apa sebenarnya salesmanship itu?


salesmanship : pixabay

Kali ini taupasar.com mengutip teori salesmanship dari Paul D. converse Huegy dan Mitchell  yang menyebutkan : “Salesmanship is one of order and one of the most effective methods of creating and stimulating demand, finding buyer’s and making sales”- menjual adalah suatu metode yang paling tua dan paling efektif dalam menciptkan dan mendorong permintaan, mencari pembeli dan melakukan penjualan. (Alma, 2005: 111).

Jika dikaitkan dengan teori evolusi pemasaran yang sering diungkapkan oleh Pak Hermawan Kertajaya, maka istilah “paling tua” itu relevan dengan konsep marketing 1.0 yaitu “customer is our target” yang berarti pelanggan adalah target kita. Jika dicermati ternyata konsep marketing 1.0 masih sangat sering kita jumpai dibeberapa produk. Ciri dari konsep ini adalah salesman dengan segala upaya meyakinkan (tidak jarang hingga memaksa) kita membeli suatu produk yang sebenarnya belum tentu kita butuh. Anda pernah mengalaminya saat ditawarkan MLM (multi level marketing), asuransi atau kartu kredit?

Hal itulah yang sebenarnya membuat citra profesi salesman mengalami gradasi dimata mereka yang merasa menjadi “korban” atau target. Hal itu bertolak belakang dengan teori dasar salesmanship yang diungkapkan oleh Atkinson Kirkpatrick.

Menurut Atkinson Kirkpatrick (1966) seorang salesman harus mengawali kerangka kerjanya dengan sebuah pertanyaan, "what can I do for my prospect and customers? "– apa yang saya dapat lakukan untuk kepentingan calon pelanggan dan pelanggan saya? "Bukan sebaliknya what can my prosect and customers do for me?" Apa yang calon pelanggaan dan pelanggan saya bisa lakukan buat saya? Dimana dalam pertanyaan kedua tersebut seolah membenarkan bahwa customer adalah korban kita.


salesmanship : pixabay

Lantas bagaimana seharusnya etika dasar yang harus dimiliki seorang salesman profesional sehingga konotasi negatif yang mungkin sudah melekat dibanak beberapa orang bisa berubah menjadi positif? Atkinson menggambarkan profesionalisme penjual bisa terjadi jika : “He posses a satisfactory amount of basic ability to sell” (memiliki kemampuan menjual yang memuaskan). Artinya seorang salesman tidak akan hanya berhenti pada proses transaksi jual - beli namun memastikan bahwa apa yang dia jual memberikan kepuasan bagi pembelinya.

Sebagai penutup Atkinson juga berpedapat: “He consciously chose the selling field and is proud of it” (dia bangga memilih pekerjaan menjual ini). Artinya salesman yang profesional harus bangga dengan profesinya jika berhasil memberikan kepuasan pada pelanggannya. Namun harus diingat ada beberapa etika dasar yang harus dimiliki menuju sales yang profesional.

  1. He is loyal to high ethical standards (dia memiliki standar etika yang tinggi)
  2. He is skilled in his work (terampil dalam pekerjaan)
  3. His knowledge is thorough (memiliki pengetahuan)
  4. He is true to his obligations (benar bila berjanji)
  5. He stay up to date because he never stops learning (dia tidak ketinggalan jaman, karena selalu belajar)
  6. He maintains his self respect and his independence (dia memelihar keutuhan pribadinya dan kemerdekaannya)
  7. He knows that to sell is to serve (dia mengetahui bahwa pekerjaan menjual artinya melayani) 

Sumber : Modul Training Salesmanship