taupasar.com

we read, we create and we share it.

Rumus Break Event Point (BEP) Beserta Contoh Soal Mengitung BEP

Rumus Break Event Point – Bagi seorang pebisnis istilah Break Event Point (BEP) merupakan sesuatau yang tidak asing lagi. Biasanya seorang pembisnis yang ingin menghitung dalam beberapa tahun perusahaannya dapat menghasilkan keuntungan, mereka sering memakai perhitungan BEP. Dalam ilmu Akuntansi BEP biasa diartikan sebagai titip dimana pendapatan dari usaha sama dengan modal yang telah dikeluarkan.

gambar rumus BEP

Dalam hal ini anda belum mengalami kerugian ataupun keuntungan. Beberapa orang biasanya sering menyebut oeristiwa tersebut dengan istilah balik modal. Sehingga bagi anda yang memiliki usaha atau bisnis sangat penting melakukan perhitungan BEP. Untuk mengetahui Rumus Break Event Point akan diulas dibawah ini.


Pengertian Break Event Point

Seperti penjelasan di atas, Break Event Point merupakan suatu keadaan dimana dalam operasi perusahaan, perusahaan tersebut belum memperoleh keuntungan dan tidak mengalami kerugian (penghasilan yang didapatkan menggunakan total biaya).

Sebenarnya ketika seorang pebisnis memakai perhitungan BEP tidak hanya digunakan untuk mengetahui apakah keadaan perusahaan mencapai titik BEP atau tidak, namun analisa dari BEP ini mampu memberikan informasi kepada pinjaman perusahaan tentang berbagai dari tingkat volume penjualan. Selain itu, untuk mengetahui hubungannya dengan kemungkinan mendapatkan keuntungan menurut tingkat penjualan yang bersangkutan.


Definisi atau Pengertian BEP Menurut Para Ahli
  1. Menurut Prasetya dan Lukiastuti (2009:119) analisis Break Even Point adalah suatu analisis yang bertujuan untuk menemukan satu titik, dalam unit atau rupiah, yang menunjukkan biaya sama dengan pendapatan. Titik tersebut dinamakan titik BEP. Dengan mengetahui titik BEP, analis dapat mengetahui pada volume penjualan, berapa perusahaan mencapai titik impasnya, yaitu tidak rugi, tetapi juga tidak untung sehingga apabila penjualan melebihi titik itu, maka perusahaan mulai mendapatkan untung.
  2. Menurut Yamit (1998:62) BEP dapat diartikan suatu keadaan dimana total pendapatan besarnya sama dengan total biaya (TR=TC). Sedangkan menurut Prawirosentono (2001:111) analisis Break Even Point Analysis (BEP) merupakan titik produksi, dimana hasil penjualan sama persis dengan total biaya produksi.
  3. Dalam bukunya Herjanto (2008:151) menyatakan, analisis pulang pokok (break-even analysis) adalah suatu analisis yang bertujuan untuk menemukan satu titik dalam kurva biaya-pendapatan yang menunjukkan biaya sama dengan pendapatan. Titik tersebut disebut sebagai titk pulang pokok (break even point, BEP).


Fungsi Analisa BEP

Sementara mengenai fungsi analisa BEP itu sendiri cukup bermanfaat karena dari segi kemudahan cukup mudah di lakukan. Beberapa fungsi yang umumnya bisa anda dapatkan diantaranya yaitu:

1. Dapat dengan mudah aware dengan dana yang digunakan

Dengan menerapkan perhitungan BEP paada usaha, anda dapat dengan mudah mengukur apakah fixed cost, variable cost serta biaya-biaya lainnya sudah sesuai dengan yang kita harapkan. Tentunya anda tidak ingin terlalu lama dalam mencapai BEP, sehingga dengan menerapkan perhitungan BEP tersebut anda dapat menentukan apakah dana tersebut terlalu besar untuk anda terapkan atau tidak.

2. Dapat dipakai sebagai proyeksi

Fungsi berikutnya penerapan BEP dapat mengetahui berapa volume unit yang diperlukan untuk mencapai target BEP. Sehingga dengan ini anda dapat menentukan target penjualan secara harian, mingguan, bulanan, hingga tahunan. Selain itu, BEP juga berfungsi untuk menentukan berapa nominal rupiah penjualan yang harus kita capai sehingga kita bisa mendapatkan balik modal dan memproyeksikan kapan kita bisa mendapatkan keuntungan. 


Klasfikasi atau Penggolongan Biaya - biaya dalan Analisa BEP

Dalam perhitungan Break Even Point (BEP) sangat diperlukan unsur yang sangat penting yaitu mengenai unsur biaya. Biaya secara umum adalah pengeluaran-pengeluaran yang tidak dapat dihindarkan, tetapi dapat diperkirakan.

Adapun pengertian biaya menurut Prawirosentono (2001:114) secara umum dalam suatu perusahaan adalah pengorbanan sumber daya produksi ekonomi yang dinilai dalam satuan uang, yang tidak dapat dihindarkan terjadinya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Menurut Prawirosentono (2001:113) biaya-biaya dapat dikelompokkan menurut sifatnya (by nature) yaitu:

1. Biaya tetap (Fixed Cost=FC)

Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap konstan tidak dipengaruhi perubahan volume produksi pada periode dan tingkat tertentu. Namun pada biaya tetap ini biaya satuan (unit cost) akan berubah berbanding terbalik dengan perubahan volume produksi.

Semakin tinggi volume produksi, semakin rendah biaya satuannya. Sebaliknya, semakin rendah volume produksi semakin tinggi biaya per satuannya. Jenis biaya yang tergolong biaya tetap antara lain adalah: penyusutan mesin, penyusutan bangunan, sewa, asuransi asset perusahaan, gaji tetap bulanan para karyawan tetap.

2. Biaya Variabel

Biaya variable adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding (proporsional) sesuai dengan perubahan volume produksi. Semakin besar volume produksi semakin besar pula jumlah total biaya variable yang dikeluarkan. Sebaliknya semakin kecil volume produksi semakin kecil pula jumlah total biaya variabelnya.

Jenis biaya variable antara lain adalah: biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langusng, biaya tenaga listrik mesin, dan sebagainya.

3. Biaya Semi Variabel
Biaya semi-variabel adalah biaya yang jumlah totalnya akan berubah sesuai dengan perubahan volume produksi, namun perubahannya tidak proporsional. Dalam analisis titk-impas, biaya harus dikelompokkan menjadi dua kelompok yakni biaya tetap dan biaya variabel.

Menurut Carter (2009:69) biaya semivariabel didefinisikan sebagai biaya yang memperlihatkan baik karakteristik-karakteristik dari biaya tetap maupun biaya variabel. Biaya semacam itu mencakup biaya listrik, air, gas, bensin, batu bara, beberapa perlengkapan, pemeliharaan, beberapa tenaga kerja tidak langsung, biaya perjalanan, asuransi jiwa kelompok untuk karyawan, biaya pensiun, dan pajak penghasilan.


Rumus Dan Ketentuan Menghitung BEP

Untuk cara menghitung BEP dan Rumus Break Event Point yang perlu anda ketahui ada dua jenis. Kedua cara tersebut bisa anda pilih yang paling mudah dan relevan, akan tetapi pada umumnya kedua cara ini saling melengkapi. Namun sebelum itu ada baiknya jika anda mengetahui terlebih dahulu ketentuan dalam menyusun perhitungan BEP.

Sedangkan kedua cara yang digunakan untuk menerapkan perhitungan BEP harus menggunakan dan memilih kedua rumus dibawah ini.

1. Rumus BEP dengan Pendekatan Matematis

Pendekatan matematis merupakan suatu cara yang digunakan untuk menghitung BEP berdasarkan unit. Atau diartikann sebagai cara menghitung BEP yang harus diketahui terlebih dahulu jumlah dari total biaya tetap, biaya variable per unit atau total variable dan hasil penjualan total atau harga jual per unit. Untuk rumusnya yaitu,

BEP unit = (Biaya tetap) / (harga per unit – biaya variable per unit)
Atau BEP = (FC) / (P – VC)   

Atau secara lebih jelas bisa dilihat dari gambar rumus BEP berikut ini :

rumus BEP

Keterangan:
BEP (Rp ) = Titik Pulang Pokok (dalam rupiah)
BEP (Q) = Titik Pulang Pokok (dalam unit)
Q = jumlah unit yang dijual
F = biaya tetap
V = biaya variable per unit
P = harga jual netto per unit
TR = pendapatan total
TC = Biaya total

Rumus matematis yang kedua adalah dengan cara menghitung BEP yang didasarkan pada nominal rupiah. Caranya adalah dengan menghitung titik pulang pokok, yang dinyatakan dalam jumlah penjualan tertentu. Dalam hal inilah anda akan memperkirakan pada jumlah nominal penjualan berapa bisnis yang akan mengalami balik modal atau Break event point. Dengan rumus sebagai berikut:

BEP rupiah = (biaya tetap) / (kontribusi margin per unit / harga per unit)

 
2. Perhitungan BEP dengan Pendekatan Grafik

Rumus BEP yang kedua adalah dengan memakai pendekatan grafik. Dimanaa pendekatan grafik menggambarkan hubungan antara volume penjualan dengan biaya yang telah dikeluarkan oleh suatau perusahaan dan keuntungan. Selain itu, juga dapat digunakan untuk mengetahui tentang biaya tetap, tingkat kerugian perusahaan dan biaya variable. Asumsi yang biasa digunakan dalam rumus yang kedua ini yaitu bahwa harga jual, biaya variable per unit adalah konstan.

Untuk lebih jelas silahkan simak gambar berikut :

rumus BEP

Gambar di atas menunjukkan model dasar dari analisis pulang pokok, dimana garis pendapatan berpotongan dengan garis biaya pada titik pulang pokok (BEP). Sebelah kiri BEP menunjukkan daerah kerugian, sedangkan sebelah kanan BEP menunjukkan daerah keuntungan. Model ini memiliki asumsi dasar bahawa biaya per unit ataupun harga jual per unit dianggap tetap/konstan, tidak tergantung dari jumlah unit yang terjual.


Contoh Soal Mengitung BEP (Break Event Point)

Berikut contoh - contoh sederhana penerapan perhitungan rumus break event point :

contoh soal Break event point

soal break event point


Fungsi BEP cukup memudahkan anda dalam mengontrol tingkat dari produksi agar tidak lebih kecil dari BEP. Selain itu, analisis BEP dapat dijadikan sebagai alat perencanaan penjualan dan sekaligus sebagai alat perencanaan tingkat produksi agar sebuah perusahaan secara minimal tidak mengalami kerugian. Sehingga untuk bisa mendapatkan keuntungan suatu perusahaan harus dapat memproduksi di atas dari BEP nya. Nah, itulah ulasan mengenai Rumus Break Event Point yang dapat anda pelajari beserta yang berkaitan dengan BEP. Semoga bermanfaat dan dapat anda terapkan untuk usaha.


Penulis : Irma
Editor : Sigit Ardho







Related Posts