Solikhah

CEO Taupasar.

Tantangan Ketahanan Pangan Indonesia di Masa Depan

- taupasar.com, Sudah bukan sebuah rahasia jika sektor pangan menjadi tantangan besar setiap negara untuk mencukupi kebutuhan masyarakatnya, termasuk Indonesia yang memiliki lebih dari 265 juta penduduk. Ketahanan pangan pun menjadi hal utama yang harus segera diselesaikan terlebih dahulu.

Hal tersebut bukan hal baru, namun selama ini terbukti solusinya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tantangan yang terlihat sangat kompleks mulai dari detail permasalahan yang ada di sistem agribisnis, baik di bagian hulu, tengah, ataupun hilirnya. Mulai dari kualitas benih lokal yang belum baik, mahalnya harga pupuk, hingga minimnya riset menjadi soal utama.


.“Sementara itu, dari segi proses penanamannya sendiri, permasalahan berkutat antara banyaknya perantara, akses petani pada dana yang terbatas, kurangnya aplikasi teknologi, tingkat pendidikan petani, hingga pengaruh perubahan iklim,” kata Direktur Utama PT Berdikari (Persero) Eko Taufik Wibowo, dalam keterangan tertulisnya, pada Selasa (8/10), di Jakarta.

Di sisi produksi dan distribusi, masalah yang terjadi adalah kurangnya hasil produksi, tingginya biaya produksi, hingga memburuknya kualitas pangan seiring jalannya distribusi. Di bagian hilir, permasalahan muncul pada saat produksi pangan, meliputi porsi bahan baku yang masih banyak diimpor, inefisiensi proses bisnis serta sektor pangan yang masih bertumpu pada UMKM.

Dikutip dari Instagram Bursa Efek Indonesia menyampaikan,“Berbagai permasalahan tersebut menjadi peringatan, mengingat sektor pangan adalah penyumbang terbesar kedua PDB Indonesia. Sektor ini juga penting karena lebih dari 35 juta orang (hampir seperdelapan jumlah penduduk) bekerja di dalamnya,” imbuhnya.

Hal tersebut ditambah fakta bahwa bahan baku pangan adalah faktor penentu pertama tingkat inflasi. “Ironisnya, nilai impor untuk bahan makanan mentah kita mencapai USD7,4 Miliar (untuk keperluan rumah tangga & industri pada tahun 2017) sehingga menyebabkan defisitnya neraca perdagangan sementara niat untuk mandiri terus menjadi rencana,” terang Eko Taufik Wibowo

Hal tersebut ditambah fakta bahwa bahan baku pangan adalah faktor penentu pertama tingkat inflasi. “Ironisnya, nilai impor untuk bahan makanan mentah kita mencapai USD7,4 Miliar (untuk keperluan rumah tangga & industri pada tahun 2017) sehingga menyebabkan defisitnya neraca perdagangan sementara niat untuk mandiri terus menjadi rencana,” terang Eko Taufik Wibowo.

Oleh karena itu, ungkap Eko, demi menggapai kemandirian ekonomi sesuai dengan Rencana Jangka Panjang dan Menengah Negara 2015-2019, perlu adanya ketahanan pangan yang tangguh, yang dapat ditilik melalui parameter-parameter kunci.

“Parameter tersebut seperti availabilitas pangan, melalui akses dan stabilitas harga pangan, harga pangan yang terjangkau, kualitas pangan yang baik dengan nutrisi yang seimbang, serta kemampuan sumber daya alam Indonesia untuk beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim,” pungkasnya