Solikhah

CEO Taupasar.

Memahami Marketing 4.0 | Pendekatan Marketing Terbaru Dari 4A Menjadi 5A


Mareting 4.0 adalah sebuah pendekatan marketing modern yang lebih adaptif  untuk menghadapi perilaku konsumen akibat adanya digital market. Istilah keren ini sering sekali dilontarkan bahkan dibuat buku oleh Pak Hermawan Kertajaya sang begawan marekting modern Indonesia. Konsep ini keluar demi menjwab berbagai pertanyaan atas persoalan “apa yang saya harus lakukan di era digital seperti ini?”


marketing 4.0 : pixabay

Penelitian yang dilakukan oleh McKinsey mengatakan bahwa  inovasi yang dipercaya memberi dampak pada ekonomi secara signifikan yaitu internet, robotik, 3-D printing, dan sebagainya. Teknologi ini membantu mengembangkan sektor-sektor ekonomi, seperti sektor ritel dengan e-commerce, transportasi dengan kendaraan automatis, pendidikan dengan aneka kursus online, kesehatan, sampai interaksi sosial melalui media sosial. Khusus perihal internet, itulah salah satu pemicu konsep marketing 4.0.



Ciri marketing 4.0 adalah perubahan customer path 4A yakni Aware, Attitude, Act, dan Act Again berubah menjadi 5A, yakni Aware, Appeal, Ask, Act, dan Advocate.  Contoh sederhanya adalah dalam konsep 4A customer memiliki ruang lingkup yang lebih simple saat memutuskan membeli sesuatu. Mereka kurang lebih cukup Aware (sadar) akan benefitnya, lalu mereka akan cari tau lebih lanjut (Attitude) dan jika merasa oke, mereka akan coba (Act) lalu akan beli lagi ketika merasa puas (Act again). Sedang konsep 5A membuat orang saat ini lebih suka bertanya, melihat review atau komentar atau testimoni produk sebelum mereka beli lewat sosial media. Ditambah lagi jika mereka merasa puas, maka mereka tidak sungkan untuk share info (Advocate). Konsep 4A dan 5A akan dibahas lebih detail di artikel khusus.

Tidak dapat dipungkiri jika hadirnya internet atau dunia digital merubah secara masif perilaku konsumen. Saat ini dengan mudah seseorang bisa mengetahui secara detail produk yang mereka ingin beli dari berbagai platform. Lantas apakah hal itu membuat pasar tradisional terancam? Marketing 4.0  justru memiliki  pendekatan pemasaran yang mengkombinasikan interaksi online dan interaksi offline antara perusahaan dengan pelanggan.

Selain mengkombinasikan online dan offline, Marketing 4.0 juga mengintegrasikan antara style dan substance. Artinya, merek tidak hanya mengedepankan branding bagus, tetapi juga konten yang relevan dengan pelanggan atau menyuguhkan konten yang bagus dengan kemasan yang up-to-date dan bagus.

Marketing 4.0 juga mengembangkan konektivitas machine-to-machine dan artificial intelligence dalam rangka mendongkrak produktivitas. Tetapi, itu harus diimbangi dengan pengembangkan konektivitas human-to-human yang justru akan memperkuat customer engagement. Intinya, pengembangan teknologi tidak berhenti pada teknologi itu sendiri, tapi bagaimana teknologi ini membantu merek dalam memanusiakan relasi dengan para pelanggannya.

Menurut infopasar.com kunci bagaimana sebuah produk atau brand bisa bertahan dalam era marketing 4.0 adalah soal tidak “latah” (follower) trend. Yang sering terjadi karena begitu (kelihatan) menggiurkan bisnis lewat online ini membuat orang lupa akan pasar existing saat ini yaitu offline market. Perlu dicatat banyak sekali produk yang tidak bisa bertahan didunia digita mengapa? Karena mereka lupa bahwa banyak produk yang lebih sering dibeli offline ketimbang online. Produk apa saja itu? Nanti kita bahas lebih mendalam khusus untuk produk online – offline.