Solikhah

CEO Taupasar.

Memahami Marketing 4.0 | Pendekatan Marketing Terbaru Dari 4A Menjadi 5A


Apa Itu Marketing 4.0?

Mareting 4.0 adalah sebuah pendekatan marketing modern yang lebih adaptif  untuk menghadapi perilaku konsumen akibat adanya digital market. Istilah keren ini sering sekali dilontarkan bahkan dibuat buku oleh Pak Hermawan Kartajaya sang begawan marekting modern Indonesia. Konsep ini keluar demi menjwab berbagai pertanyaan atas persoalan “apa yang saya harus lakukan di era digital seperti ini?”
 
Penelitian yang dilakukan oleh McKinsey mengatakan bahwa  inovasi yang dipercaya memberi dampak pada ekonomi secara signifikan yaitu internet, robotik, 3-D printing, dan sebagainya. Teknologi ini membantu mengembangkan sektor-sektor ekonomi, seperti sektor ritel dengan e-commerce, transportasi dengan kendaraan automatis, pendidikan dengan aneka kursus online, kesehatan, sampai interaksi sosial melalui media sosial. Khusus perihal internet, itulah salah satu pemicu konsep marketing 4.0.

Marketing 4.0 dar 4A menjadi 5A


Ciri - Ciri Marketing 4.0 dari 4A Menjadi 5A


Ciri marketing 4.0 adalah perubahan customer path 4A yakni Aware, Attitude, Act, dan Act Again berubah menjadi 5A, yakni Aware, Appeal, Ask, Act, dan Advocate.  Contoh sederhanya adalah dalam konsep 4A customer memiliki ruang lingkup yang lebih simple saat memutuskan membeli sesuatu. Mereka kurang lebih cukup Aware (sadar) akan benefitnya, lalu mereka akan cari tau lebih lanjut (Attitude) dan jika merasa oke, mereka akan coba (Act) lalu akan beli lagi ketika merasa puas (Act again).

Sedang konsep 5A membuat orang saat ini lebih suka bertanya, melihat review atau komentar atau testimoni produk sebelum mereka beli lewat sosial media. Ditambah lagi jika mereka merasa puas, maka mereka tidak sungkan untuk share info (Advocate). Konsep 4A dan 5A akan dibahas lebih detail di artikel khusus.

Tidak dapat dipungkiri jika hadirnya internet atau dunia digital merubah secara masif perilaku konsumen. Saat ini dengan mudah seseorang bisa mengetahui secara detail produk yang mereka ingin beli dari berbagai platform. Lantas apakah hal itu membuat pasar tradisional terancam? Marketing 4.0  justru memiliki  pendekatan pemasaran yang mengkombinasikan interaksi online dan interaksi offline antara perusahaan dengan pelanggan.

Selain mengkombinasikan online dan offline, Marketing 4.0 juga mengintegrasikan antara style dan substance. Artinya, merek tidak hanya mengedepankan branding bagus, tetapi juga konten yang relevan dengan pelanggan atau menyuguhkan konten yang bagus dengan kemasan yang up-to-date dan bagus.

Marketing 4.0 juga mengembangkan konektivitas machine-to-machine dan artificial intelligence dalam rangka mendongkrak produktivitas. Tetapi, itu harus diimbangi dengan pengembangkan konektivitas human-to-human yang justru akan memperkuat customer engagement. Intinya, pengembangan teknologi tidak berhenti pada teknologi itu sendiri, tapi bagaimana teknologi ini membantu merek dalam memanusiakan relasi dengan para pelanggannya.

Konsep Marketing 4.0 Hermawan Kartajaya


Dari Marketing 1.0 ke Marketing 4.0


Di buku sebelumnya, Marketing 3.0, Kotler, Kartajaya, dan Setiawan, menyebut pemasaran telah berkembang dari yang semula berorientasi pada produk (marketing 1.0), ke pemasaran berorientasi pada pelanggan (marketing 2.0), lalu pemasaran yang berorientasi pada manusia (marketing 3.0).

Pada era marketing 1.0, fokus terletak hanya pada bagaimana menjual produk sebanyak mungkin. Sisi konsumen atau pelanggan tak dipikirkan. Sedang di tahap berikutnya (2.0), perusahaan memasarkan produk sambil menyentuh hati pelanggan. Sebuah brand diupayakan punya ikatan emosional dengan pelanggannya. Pendekatan ini kini juga dianggap ketinggalan zaman lantaran lagi-lagi hanya menganggap konsumen individu yang pasif.

Di era setelahnya (3.0), konsumen bukan lagi dianggap obyek-pasif. Konsumen juga manusia yang berdaging, punya akal budi, hati nurani, cita-cita, harapan, dan rasa cemas. Perusahaan tak hanya memasarkan produk, tapi juga punya visi, misi, dan value yang sejalan dengan konsumennya.

Di sini, perusahaan diibaratkan sebagai manusia. Ketika perusahaan menjalankan etika bisnis dengan baik, pelanggan akan menilainya baik yang kemudian produk atau layanannya ia konsumsi. 

Nah, pendekatan manusiawi pada pelanggan perlu dimutakhirkan seiring perkembangan teknologi yang kian pesat. Marketing tahap keempat atau pemasaran 4.0 memanfaatkan teknologi terkini untuk menyentuh pelanggan secara manusiawi. Didukung oleh analisa data raksasa (big data), produk dipasarkan untuk kebutuhan pribadi. Layanan pun jadi lebih pribadi.

Dasar pemikiran utama konsep Marekting 4.0 adalah pemasaran harus disesuaikan dengan perubahan alami dari jalur pelanggan dalam ekonomi digital. Peran yang diemban pemasar adalah membimbing pelanggan di sepanjang perjalanan mereka dari kesadaran hingga akhirnya penganjuran.

Lanskap Bisnis yang Berubah Karena Digitalisasi


Kita menyaksikan dunia bergeser secara radikal saat ini. Struktur kekuasaan yang kita kenal berubah drastis. Eksklusivitas digusur inklusivitas; yang vertikal digantikan horizontal; dan kekuatan individu ditumbangkan kelompok sosial.

Kita melihat komunitas pelanggan jadi kuat posisinya. Mereka juga lebih vokal. Mereka tidak takut pada perusahaan besar dan merek besar. Mereka suka berbagi cerita, baik dan buruk, tentang mereka.

Keberadaan media sosial dan aplikasi percakapan memungkinkan suara nyaring mereka terdengar lebih luas. Internet dan media sosial kian menghubungkan antar pelanggan maupun calon pelanggan.

Konektivitas jadi kunci. Lewat saluran pemasaran online maupun offline, pemasar bisa memasarkan produknya dengan beragam cara dan media. Namun, di tengah keberlimpahan informasi pada akhirnya pelanggan berpaling ke sumber nasihat yang mereka percaya: lingkaran sosial teman-teman dan keluarga mereka.

Pada awalnya, inti praktek pemasaran  adalah cara klasik membantu merencanakan apa yang ditawarkan dan cara menawarkannya. Yang dijual dirumuskan dalam empat P yakni product (produk), price (harga), place (tempat), dan promotion (promosi).

Di dunia yang kian terkoneksi, konsep bauran pemasaran itu berkembang mengakomodasi lebih banyak partisipasi pelanggan. Buku ini mengusulkan bauran pemasaran (empat P) didefinisikan ulang menjadi empat C yakni, co-creation (mencipta bersama), currency (mata uang), communal activation (aktivasi komunal), dan conversation (percakapan).

Maksudnya, kini sebuah produk bisa dikembangkan bersama antara produsen dengan konsumen (co-creation). Harga tak ditentukan sepihak, tapi berfluktuasi seperti mata uang (currency).

Akses pada produk dan jasa tersedia hampir secara instan, disediakan oleh rekan-ke-rekan (communal activation). Lalu, pelanggan kini punya platform untuk melakukan percakapan dan mengevaluasi layanan atau merek yang pernah mereka gunakan (conversation).
Dari “Aware” Menuju “Advocate”

Selain berisi panduan memahami pasar yang kian dinamis, buku ini memberi banyak insight yang patut direnungkan pemasar. Salah satunya paradoks online dan offline. Walau kini segala hal telah serba online, bukan berarti yang offline serta-merta ditinggalkan. Ternyata sentuhan fisik tetaplah aspek penting bagi pelanggan. Itu sebabnya, di tengah kelesuan toko buku, Amazon justru membuka toko fisik. Di saat media online menggusur media cetak, bos Amazon malah membeli koran The Washington Post.       

Orang mencari berita terkini ke Twitter, tapi tetap menonton CNN untuk mengecek kebenaran dan liputan mendalam. Atau sebaliknya. Sebuah iklan trailer film di televisi akan memicu pencarian informasi film tersebut secara online.

Iklan pun demikian. Sebuah marketplace macam Bukalapak, Shopee, atau Tokopedia tetap menghabiskan bujet iklan besar di media tradisional macam televisi. Ujungnya adalah, pemasaran tahap keempat tak hanya membuat pelanggan tahu sebuah produk/mereka (aware), menyukainya (appeal), mencari tahu soal merek tersebut (ask), memutuskan membeli (act), namun juga membeli kembali dan akhirnya menganjurkannya pada orang lain (advocate).

Konsep Marketing 4.0 ala Hermawan Kartajaya ini bisa jadi titik awal memahami konsumen zaman now, yakni mereka yang melek teknologi, punya pengetahuan bejibun soal produk, cerewet serta suka berbagi hal baik maupun buruk soal merek.

Pada akhirnya, mereka adalah manusia yang butuh perhatian dan ingin diperlakukan khusus. Pendekatan manusiawi pada mereka wajib dipertahankan. Internet, handphone pintar, dan media sosial menjadikan pendekatan pada mereka jadi unik. Siapa yang menguasai triknya, maka pemasar tersebut yang bakal menang.


Menurut taupasar.com kunci bagaimana sebuah produk atau brand bisa bertahan dalam era marketing 4.0 adalah soal tidak “latah” (follower) trend. Yang sering terjadi karena begitu (kelihatan) menggiurkan bisnis lewat online ini membuat orang lupa akan pasar existing saat ini yaitu offline market. Perlu dicatat banyak sekali produk yang tidak bisa bertahan didunia digita mengapa? Karena mereka lupa bahwa banyak produk yang lebih sering dibeli offline ketimbang online. Produk apa saja itu? Nanti kita bahas lebih mendalam khusus untuk produk online – offline.


Referensi : Buku Marketing 4.0 - Hermawan Kartajaya
Related Posts